Rabu, 12 Desember 2012

TUHAN AKU INGIN BEBAS

BIARKAN AKU MEMILIH DAN MENENTUKAN HIDUPKU... 



Hati ini selalu merasa sangat tersayat-sayat ketika banyak beban dalam hidup kita yang tidak dapat terselesaikan dengan baik.terkadang memang orang terdekat atau keluarga sendiri yang membuat kita terbebani ingin jujur tp takut mengecewakan mereka. 


Ingin sekali terbebas dr semua beban ini, memang ini yang terbaik  dan kita pun mengetahui kalo kalian pun mencintai dan menyayangi kita tapi kalian tidak mengerti tindakan kalian itu malah membuat kita merasa terbebani dan seperti berada didalam sangkar. 



jujur kebebasan yg diinginkan bkn kebebasan yg semata-mata hanya membuat kita senang sementara. tapi kita mau kebebasan dalam bicara, tindakan, dan melakukan apapun yang penting tidak melanggar ketentuan dan norma dalam bermasyarakat. kami hanya mau kalian mendengar dan membiarkan kita memilih jalan hidup kita masing-masing. kami ingin kalian tahu kalau sebenarnya kita butuh pengarah bukan pengatur.



Kepercayaan dari kalian itulah yang kita butuhkan. percuma kita berjalan sejauh ini tetapi kita tetap merasa tidak pernah ada kemajuan hanya karena ketidakpercayaan kalian pada kita. memang mungkin butuh waktu dan juga pengertian dari kalian tapi coba kalian tahu apa mungkin kita selalu diatur seperti ini. kita berdoa kepada Tuhan supaya kalian bisa luluh dan memberikan kesempatan untuk kita bisa mengembangkan jati diri kita sebenarnya.


terlalu lama kita menutupi jati diri kita hanya karena ingin kalian tetap merasa puas kami bukan ingin melawan dan memberontak memang benar kalian punya hak untuk kita karena kalian kita bisa ada didunia ini. Kalian menginginkan yang terbaik untuk kita. Tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Namun, tidak sedikit kalian menggunakan alasan tersebut untuk bersikap posesif dan egois terhadap kita. Bukan kebaikan yang didapatkan tapi dengan kedua sikap itu kita dapat hancur. Tidak selalu yang terbaik menurut kalian baik pula untuk kita.

Dengan melahirkan ataupun memberi nafkah pada kita bukan berarti kita adalah hak milik kalian. Namun, hal tersebutlah yang sering kali dirasakan oleh kalian. Kalian beranggapan bahwa kita adalah milik kalian yang bisa diperlakukan sesuai dengan keinginan kalian. Bukankah hal tersebut menunjukan sifat posesif?Yang terbaik bagi kita sering diartikan bahwa kita harus menjadi yang terbaik. Adakalanya, untuk menjadi yang terbaik, kalian selalu memaksakan kehendak kalian. Semua perilaku dan sifat kita haruslah sesuai dengan keinginan kalian.  Kesempurnaanlah yang kalian inginkan. Nilai 90 sampai 100 itulah yang terbaik. 


Tidak punya pilihan, impian dan kebebasan. Itu buah dari hasil sikap posesif dan egois kalian. yang kita mau Hanya sikap bijaksana yang dapat menyelamatkan kita semua.  
tolong kalian pikir puisi dibawah ini:
Anakmu bukanlah anakmu. Mereka putra – putri kehidupan yang rindu akan diri mereka sendiri.
Mereka datang melalui engkau, tapi bukan dari engkau.
Dan walau mereka ada bersamamu, tapi mereka bukan kepunyaanmu.
Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu, tapi tidak pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.
Kau bisa merumahkan tubuhnya, tapi tidak jiwanya.
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat engkau sambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu.
Kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka, Tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, Pun tiada tinggal bersama bari kemarin.
Engkaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.


Kini saatnya melakukan introspeksi diri. Apakan kalian yang bijaksana atau sebaliknya, kalian yang posesif, egois dan overprotektif? kita semua tidak yang sempurna didunia ini hanya kita ingin berusaha sempurna agar kita semua bisa memproleh kehidupan yang baik. kita semua saling mencintai dan menyayangi. Tuhan memberkati kita sekalian.






Jumat, 16 November 2012

DRAMA & PROBLEMA


Merasa Hidup kita penuh dengan drama dan problema? mungkin ini masalahnya ada pada diri kita sendiri
LET'S STOP BEING A DRAMA QEEN, AND FOLLOW THESE TIPS FOR TO GET OURSELVES A DRAMA-FREE LIFE! 


Drama adalah salah satu jenis karya sastra yang mempunyai kelebihan dibandingkan dengan karya sastra jenis lain, yaitu unsur pementasan yang mengungkapkan isi cerita secara langsung dan dipertontonkan di depan umum.dan drama hanya terlihat bagus di suatu pertunjukan tapi tidak didalam kehidpan nyata. siapa yang suaka apabila masalah kecil dan tidak penting akhirnya menjadi suatu masalah yang besar? kehidupan drama paling sering dialami oleh usia remaja. salah satu alasannya adalah karena di usia remaja, kita sedang mencari jati diri sehingga cenderung lebil labil, dan mudah dipengaruhi oleh lingkungan, bila tidak dicegah drama bisa menigkatkan stress, merusak relationship, dan yang pasti membuang waktu!

Jika kita ingin hidup kita lebuh bahagia, with less stress,punya hubungan yang lebih baikdengan orang lain, dan dapat memanfaatkanwaktu sebaik-baiknya, sarankan kita mengurangi drama sebanyak-banyaknya dari hidup kita. ikuti langkah-langkah berikut ini:

STOP GUESSING
"jangan selalu berpikiran negatif dengan orang lain". pikiran-pikiran seperti ini biasanya yang mengawali drama dalam hiudp kita. soalnya,tidak ada orang yang bisa membaca pikiran orang lain. jadi ketika kita mulai menebak-nebak dan membuat asumsi semngenai alasan,motif, atau isi hati orang lain,maka kita keluar dari kenyataan yang rasionaldan menciptakan stress untuk diri sendiri.

DON'T TRUST RUMOURS
Saat kita mendengar langsung dari sumbernya. hal itu bisa kita percayai. tapi kalau misalnya kita dengar sesuatu dari beberapa orang teman kita yang juga telah diberitahu dengan teman yang lain juga, kemungkinan besar isi cerita sudah berbeda dengan fakta dari yang sebenarnya. seringkali "perkembang" rumor seperti itu membawa kita kepada drama yang tak penting sama sekali.

SAY IT STRAIGHT
bila ada yang "mengganjal" di hati kita karena sesuatu hal atau ter hadap seseorang,biasakan langsung bicara kepada yang bersamgkutan. soalnya, tanpa komunikasi yang terbuka maka kesalahpahaman akan sangat mungkin terjadi. memang membicarakan suatu masalah seringkali tidak mudah, dan bisa saja justru memancing konflik. namun hal ini masih lenih baik daripada memendamnya dalam hati dan pikiran, yang berisiko "meledak" suatu  hari dan membuat masalahnya lebih besar daripada sebelumnya.

BEWARE TO THE POWER OF SOCIAL MEDIA
berapa banya dari kita yang sukan menggunakan Twitter,Facebook,atau social media lainnya untuk menyindir seseorang atau suatu masalah. ok, social media milik kita memang bisa dipergunakan sesuai keinginan dan kebutuhan kita. tapi ingatkan! bahwa social media memiliki kekuatan yang sangat besar. ada banyak orang yang membaca account social media dan menginterpretasikan yang 'salah' saja. dan bisa menjadi masalah besar.

FORGIVE # FORGET
sesuai dengan definisi drama diatas.. membesarkan masalah kecil atau tidak penting. jadi untuk menghidari drama,mari kita membiasakan diri untuk melupakan dan memaafkan. ketika muncul masalah yang sebenarnya sepele. memaafkan juga berlaku untuk diri sendiri ! jangan membuat kita enggan dan malu dalam belajar. membuat kesalahan adalah hal yang wajar. don't be too hard on yourself.


"RECIPE FOR DRAMA : 1 CUP OF GOSSIP, 1/4 TABLESPOON OF RUMORS AND A DASH OF JEALOUSY."
ANONYMOUS



Kata-kata motivasi dari seorang Geologist

Kata GEO RoCkEr

Kegagalan itu tak pernah terjadi, yg terjadi hanyalah sukses yg tertunda, jgn menyerah terus kerjakan semua yg kau yakini

Sukses itu sebuah MIMPI Besar yg diwujudkan.

Komunikasi yg baik adalah ketika kita tdk berhenti bertegur sapa, walau sudah tdk saling membutuhkan.

Jika kebersamaan membuat kita bersatu, maka segala kebersamaan harus dijaga dengan sepenuh hati.

Kesuksesan dan kegagalan selalu saling mendampingi, tinggal bagaimana kita dlm menyikapinya, teruslah mengerjakan yg terbaik

Ketika seorg pemenang membuat kesalahan ia mengatakan,"saya salah";ketika seorg pecundang membuat kesalahan .

cinta memang terkadang menyisakan banyak tanya, tetapi cinta sejati sejati takkan pernah bertanya kapan berhenti untuknya

Bahagia itu sederhana ketika kamu dan aku menjadi kita :')

Kehilangan satu orang pacar itu musibah. Kehilangan banyak pacar itu tobat.

Aku tak pernah berjanji untuk sebuah perasaan. Tapi aku berusaha berjanji untuk sebuah kesetiaan (ˆ⌣ˆ‎​​​​)

Kesendirian itu memamng tidak dilarang dan siapapun boleh memutuskan untuk sendiri tapi kalau sudah tidak mampu bertahan untuk sendiri alangkah baiknya kita berpasangan.

Cinta itu bisa dipilih Tuhan sudah menyediakan banyak cinta untuk kita untuk mengganti cinta lama kita tetapi yang tidak dipilih adalah sebuah kesetiaan.

Jangan bilang kata cinta bila tak mampu untuk menjaganya.

Cuek itu bukan berarti sombong.

Tanpa orang tua,hati pun tidak tenang menghadapikehidupan,dengan restu mereka,hidup terasa terus termotivasi

Cintailah kehidupan, dan kehidupan akan mencintai Anda. Cintailah orang lain, dan mereka akan mencintai Anda

Bukan kecerdasan anda, melainkan sikap anda lah yang yang akan mengangkat anda dalam kehidupan.

Terkadang yang terlihat baik, tidak selamanya sempurna, begitupun sebaliknya.

Bahagia itu suatu pilihan, sengsara itu suatu kebodohan.

Bersama hujan saat ini, puisiku tumpah, mengalir deras diselokan jiwamu

Perpisahan itu menyakitkan tapi telah ditakdirkan setiap pertemuan ada perpisahan , dan jika awak kekal awak juga akan berpisah untuk mati

Cinta takkan pernah dirasakan kedalamannya, ketika belum diuji oleh sebuah perpisahan.

Keluarga adalah yg terpenting karena kita terlahir dari sana dan tugaslah kita untuk menyadarinya serta membahagiakannya

Kita tdk bisa mendengarkan suara semua orang, tapi bukan berarti kita menutup telinga terhadap masukan.

Hargai pasanganmu, sebelum akhirnya dia meninggalkanmu dan akhirnya yg tersisa hanyalah penyesalan.



HANYA INGIN BERBAGI KATA YANG BISA MEMOTIVASI KITA SEMUA DALAM MEMAKNAI KEHIDUPAN

Senin, 12 November 2012

GEOLOGI itu KEREN

GEOLOGI itu cinta.. Cinta BUMI berarti kita cinta geologi.Bumi ini penuh dengan cinta,tidak ada kebencian. awalnya saya tidak pernah mengetahui apa itu geologi. tetapi saya terjebak dengan GEOLOGI. ternyata aku makin cinta dengan  GEOLOGI. saya begitu menikmatinya dan bangga akan pilihan saya masuk kedalam GEOLOGI meskipun dulu sempat ragu.
meskipun capek fisik,otak,dan perasaan tapi saya selalu bersemangat untuk selalu mempelajari lebih dalam tentang Ilmu GEOLOGI.
Semua hal yg berkaitan tentang bumi tidak akan pernah dan selalu akan berkembang, Geologi adalah merupakan suatu ilmu kebumian yang mempelajari tentang bumi dari bagian yang terluar hingga yg terdalam dan juga komposisi yg terkandung didalamnya. seorang ahli geologi disebut sebagai GEOLOGIST.
banyak pertanyaan apa itu GEOLOGIST Tahu, Geologist ?? Tahu apa saja yang mereka lakukan ?? Tahu seberapa besar kendala mereka dalam bekerja ?? Tau apa yang membuat mereka memilih menjadi seorang geologist ?? Mengapa mereka senang dengan batu ?? Apakah  semua terlintas di pikiran kalian, betapa bodohnya geologist bekerja hanya mencari batuan??. 
semua pertanyaan diatas dikarenakan masih banyak orang yg belum tahu apa itu Geologist karena hanya beberapa atau segelintir orang yang mengerti apa itu profesi Geologist.
Geologist lebih terkenal yang notabene kehidupan sehari-harinya berada di daerah tambang atau pun dunia ekplorasi bahan tambang.
Geologist adalah sebuah profesi yang mewajibkan pelakunya berkeliling untuk mencari bahan galian ekonomis di daerah-daerah (rata-rata mereka bekerja dihutan belantara), yang nantinya bahan tambang tersebut akan di ekploitasi seperti batubara, minyak bumi, emas, timah, nikel, bijih besi, tembaga, uranium dan lain sebagainya.
Inilah kami Indonesian Geologist:
STAND BETWEEN THE ROCK AND A HARD PLACE
Because , Life is like a roller coaster. You can either scream every time there is a bump or you can throw your hands up and enjoy the ride.


“Geologist itu bukan sekedar pekerjaan, Geologist itu profesi. Kapan pun dan di mana pun dia berada, Geologist tetap akan dikenal sebagai Geologist.”

(Alm) Wilson Joshua M Sibarani

Sebetulnya ada cerita menarik yang pernah saya baca dari blog Cristina Maria Panjaitan *kekasih (Alm) Wilson Joshua M Sibarani yang meninggal dalam melakukan tugasnya sebagai geologist.
Blog itu berisi tentang ceria (Alm) Wilson Joshua M Sibarani kepada Cristina yang kemudian di tulis ulang kedalam sebuah blog.
Cekidot *kalian pasti tertegun

Regional Geology and Tectonis Of Papua

The region around the sites of Leg 180 drilling includes the Papuan Peninsula, D'Entrecasteaux Islands, and the conjugate rifted margins and islands of the Woodlark and Pocklington Rises.(Fig. F3). As reviewed in Davies et al. (1984) and Taylor (1999), the tectonic history of interest begins in the Late Cretaceous with a passive margin and ocean bordering northeast Australia. Northward subduction within the oceanic lithosphere developed an island arc and pulled continental fragments, including the Papuan Plateau, from Australia by opening the Coral Sea Basin (62-52 Ma) (Weissel and Watts, 1979; Rogerson et al., 1993). Former Australian margin sediments (now Owen Stanley Metamorphics) were accreted at the trench until the Papuan Plateau was partially subducted and an arc-continent collision ensued (Davies and Jaques, 1984). This Paleogene orogeny formed the core of the paleo-Papuan Peninsula, much of which today is 1-3 km above sea level and is underlain by a crust 30-45 km thick (Ferris et al., 2000).
Southward (reversed direction) subduction along the Trobriand Trough produced arc magmatism from the early Miocene (possibly late Oligocene) through the Holocene (Davies and Smith, 1971; Davies et al., 1984; Hegner and Smith, 1992; Stolz et al., 1993). The modern volcanic front extends from Mt. Lamington (which erupted in 1951) through Mt. Victory to Fergusson Island and in the Pliocene continued to the Amphlett Islands and Egum Atoll (4.4- to 3.5- and 2.9-Ma andesite, respectively) (Smith and Milsom, 1984). Numerous Miocene-Holocene andesitic and lesser shoshonitic volcanic centers occur behind the volcanic front (Fig. F3). Trenchward, there is a forearc basin with depocenters up to 5-7 km thick bounded by an outer forearc basement high, capped by the Lusancay-Trobriand-Woodlark Islands (Tjhin, 1976; Pinchin and Bembrick, 1985; Francis et al., 1987).
Metamorphic core complexes developed along (D'Entrecasteaux Islands) or just behind (Misima, Suckling-Dayman massif, and Emo metamorphics) the volcanic front in the latest Miocene to Holocene (Davies, 1980; Davies and Warren, 1988, 1992; Hill et al., 1992, 1995; Baldwin et al., 1993; Hill and Baldwin, 1993; Lister and Baldwin, 1993; Hill, 1994; Martinez et al., 2001). Core complex formation accompanied continental rifting, peralkaline rhyolite volcanism (Smith, 1976), and westward propagation of seafloor spreading since at least 6 Ma that formed the oceanic Woodlark Basin (Weissel et al., 1982; Taylor and Exon, 1987; Taylor et al., 1995, 1999). West of 153°E, spreading split the formerly contiguous Woodlark and Pocklington Rises approximately along the volcanic line, producing inherently asymmetric conjugate passive margins, with a Neogene forearc to the north and a Paleogene collision complex to the south. East of 153°E, the Neogene volcanic arc terminates and the boundary between the Woodlark Rise and the Solomon Sea is a transform margin (Figs. F1, F3). Thus, the (eastern) Woodlark Basin, where spreading initiated, did not originate as a backarc basin (Weissel et al., 1982).

BASEMENT AGE AND COMPOSITION

Drilling at four Leg 180 sites penetrated basement (Fig. F1) and recovered a suite of dolerite (Sites 1109, 1114, and 1118) and gabbro (Site 1117) plus basalt in conglomerates (also at Site 1115). Metadolerites were also recovered as pebbles in talus at Sites 1110-1112. As the contacts with the basement were either unconformable (Sites 1109 and 1118) or faulted (Sites 1114 and 1117), the age and nature of the intrusives were uncertain; they could be related to the Papuan ophiolite, Miocene forearc basin, or late Miocene rifting (Shipboard Scientific Party, 1999).
Ion microprobe analyses of zircons in the Site 1117 gabbro gave a 238U/206Pb age of 66.4 ± 1.5 Ma (Monteleone et al., this volume), whereas 40Ar/39Ar plagioclase apparent ages of basement samples from Sites 1109, 1117, and 1118 varied considerably with the extent of sample alteration (Monteleone et al.; Brooks and Tegner, both this volume). Some of the least-altered dolerites yielded 40Ar/39Ar plagioclase isochron ages of 58.9 ± 5.8 and 54 ± 1 Ma and plateau ages of 58.2 ± 1.0 and 55.6 ± 0.3 Ma (Monteleone et al.; Brooks and Tegner, both this volume). Variable alteration and associated Ar loss resulted in a suite of younger plagioclase apparent ages from 54 to 31 Ma.
Monteleone et al. (this volume) infer from these dates that the gabbro crystallized in the late Maastrichtian and, together with the dolerites, cooled into the Paleocene and was partially altered through the early Oligocene. They were not thermally reset by subsequent rifting events and so must have remained at shallow and cool (<250°C) levels in the crust (Monteleone et al., this volume).
Brooks and Tegner (this volume) conducted inductively coupled plasma-mass spectrometer (ICP-MS) analyses of dolerites from Sites 1109 and 1118, as well as of Papuan Ultramafic Belt (PUB) (Jaques and Chappell, 1980) and Woodlark Island (Luluai volcanics) (Ashley and Flood, 1981) basalts. From the conservative trace elements least mobile during alteration, they conclude that the dolerites from Sites 1109 and 1118 consist of material derived by partial melting of enriched mantle. The dolerites are geochemically similar to the Woodlark Island basement (and Ontong Java Plateau) but are unlike the basalts of the PUB, which came from a source similar to that of normal mid-ocean-ridge basalt (N-MORB).
The initial interpretation of multichannel seismic (MCS) data in the vicinity of Sites 1118, 1109, and 1115 needs correcting in light of the new dates of basement. The Shipboard Scientific Party (1999) inferred that the well-layered reflectors dipping ~10°N beneath the late Miocene-Quaternary sediments on this part of the Woodlark Rise represented Miocene forearc basin sediments similar to those imaged and drilled north of the D'Entrecasteaux Islands (Tjhin, 1976; Francis et al., 1987). Although such sediments were intersected at Site 1115, reinterpretation of the regional grid of MCS and gravity data (Goodliffe et al., 1999) shows that Site 1115 occurs near the eastern edge of the forearc basin (Fig. F3). Less than 500 m of Miocene sediments occurs beneath Site 1115 (Goodliffe et al., this volume), whereas the forearc basin is nearly 5 km thick only 15 km farther west (Fang, 2000).
The implication is that the >2.5 s two-way traveltime-thick prerift section of subparallel reflectors between Sites 1109 and 1115 represents >5 km of basement. Given the reflector geometry and the enriched mid-ocean-ridge basalt (E-MORB) character of the dolerites at Sites 1109 and 1118, this is apparently an extensive sill complex, possibly capped by basalts updip to the north of Site 1109. The alternative interpretation, that Sites 1109 and 1118 (and Site 1114) happened to intersect dikes within an otherwise thick lava sequence, is not supported by the lesser proportion of basalt vs. dolerite pebbles in the conglomerates derived from the erosion of basement. Although it is possible that the sequence has been thickened by thrust repetition, the simplest interpretation is that a thick igneous province was regionally tilted up on its southern edge, probably during the Paleogene orogeny, and subsequently extensively eroded. The presence of gabbro at ~1200 mbsl at Site 1117 in the same structural block of Moresby Seamount as dolerite at ~700 mbsl at Site 1114 is consistent with this interpretation.
It is instructive to compare what is now known about the ages and composition of basement in the Papuan region onshore and offshore. The PUB ocean tholeiites-gabbros-hartzburgites locally have a cover of Maastrichtian micrites (Davies, 1980). This age is correlative with the zircon age of crystallization for the Site 1117 gabbro. In other areas the foraminifer-bearing micrites overlying the PUB basalts are late Paleocene (P4 = 59-56 Ma) (Rogerson et al., 1993) in age. Other Paleocene ages include the cooling ages from Leg 180 dolerites and gabbros, as well as unpublished 40Ar/39Ar hornblende ages from PUB pegmatitic gabbros of 55.5 and 58.4 Ma (R. Duncan, pers. comm., 2001). K/Ar and 40Ar/39Ar hornblende ages of 66-56 Ma from granulites at the sole of the PUB in the Musa-Kumusi divide have been interpreted to date the PUB emplacement (Lus et al., 1998). Middle Eocene stratigraphic ages suggest that the large province of ocean tholeiites covering the southern part of the Papuan Peninsula (Milne Basic Complex and Sadowa Gabbro) (Smith, 1982) are younger than the PUB. The stratigraphically pre-late Oligocene Luluai volcanics on Woodlark Island have been considered to be equivalent to the Milne Basic Complex, but there are no radiometric ages to support this interpretation (Ashley and Flood, 1981; Davies et al., 1984).
Volcanics of island arc affinity also form part of the regional basement. Tholeiitic andesites and boninitic lavas from the Dabi Volcanics on Cape Vogel have 40Ar/39Ar total fusion and plateau ages of 58.9 ± 1 Ma, as well as 53.7 ± 1 Ma (Walker and McDougall, 1982). The Lokanu volcanics, intersected at the base of the Nubiam 1 well, are late Paleocene (Francis et al., 1987). Tonalite-diorite-dacite intrusions through the PUB are K/Ar dated at 57-47 Ma (Rogerson et al., 1993).
Thus, the upper crust of the Papuan Peninsula, D'Entrecasteaux Islands, and offshore regions of the Woodlark and Pocklington Rises is composed of a variety of basement types (dominantly ophiolitic N-MORB and E-MORB, but also arc tholeiites/boninites and dacites/tonalites) and ages (late Maastrichtian, Paleocene, and middle Eocene). The relations between many of its component parts remain unknown in detail. Furthermore, Archean zircons in Pliocene-Pleistocene conglomerates sourced from core complexes on Goodenough Island attest to the presence of Archean continental components in the lower crust (Baldwin and Ireland, 1995). These may derive from subducted parts of Australian continental fragments such as the Papuan Plateau.
This amalgam of oceanic, arc, and continental basement terranes superimposed by Neogene arc magmatism controls the rheology of the orogenic continent that is rifted in the late Miocene-Holocene. For example, Martinez et al. (2001) show that the prevalence of upper crustal ophiolites creates a density inversion capable of driving vertical extrusion of ductile lower crust in metamorphic core complexes such as that occurring in the D'Entrecasteaux Islands.